SAS in Action #19: Berat Anakku Kini 29 ons, Alhamdulillah

ShareShare on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterPin on PinterestShare on LinkedInShare on TumblrEmail this to someone

Minggu (31/1). Sahabat SAS kali ini adalah Pak Surip, warga Bimomartani, Ngemplak, Sleman. Beliau berumur 37 tahun. Dengan kondisi ekonomi pas-pasan, beliau, istri dan keluarga harus berjuang untuk anak semata wayangnya yang baru lahir beberapa bulan lalu. Anaknya lahir prematur dan mengalami gangguan pernafasan. Saat ini anaknya dirawat di Rumah Sakit Dr. Moerwadi Solo dikarenakan peralatan yang dimiliki rumah sakit di Yogyakarta sudah tidak memadai. Sudah hampir satu bulan anak tersebut berada di rumah sakit. Pak Surip dan istri harus bolak-balik Jogja-Solo setiap dua hari sekali untuk memeriksa keadaan anak mereka. Setalah pengobatan berlangsung hingga saat ini berat badan sang anak mencapai 29 ons dari yang sebelumnya 22 ons. Selain itu mereka harus berjuang untuk membayar biaya pengobatan sang anak yang setiap harinya membutuhkan biaya sekitar 2-2,5 juta per hari. Kami pun merasa iba melihat keadaan beliau, oleh karena itu pejuang SAS menyalurkan bantuan berupa yang tunai untuk membantu biaya pengobatan sang anak. Namun, satu hal yang kami pelajari dari beliau dan keluarga adalah mereka tetap bersyukur dengan segala keadaan yang mereka hadapi saat ini, karena mereka yakin ini yang terbaik.

IMG-20160131-WA0006[1]

IMG-20160131-WA0005[1]

ShareShare on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterPin on PinterestShare on LinkedInShare on TumblrEmail this to someone

SAS in Action #18: Perjuangan Hidup di Usia Mudaku

ShareShare on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterPin on PinterestShare on LinkedInShare on TumblrEmail this to someone

Minggu (31/1). Sahabat SAS kali ini adalah Nita. Ia adalah gadis muda berumur 17 tahun yang bersekolah di SMA Bhineka Yogyakarta. Setelah Ayahnya meninggal, ia hidup sendiri di sebuah kamar kos di daerah Samirono. Ibu dan kedua adiknya tinggal terpisah di daerah Godean. Karena ada masalah keluarga, Nita memutuskan untuk berjuang sendiri menghidupi segala keperluan hidupnya. Setiap hari, Ia pergi ke sekolah menggunakan sepeda motor, dan pada hari sabtu-minggu Ia pergi bekerja di salahsatu stand makanan di Toko Progo sebagai pelayan. Ia harus membayar biaya sekolah setiap bulannya kuranglebih sebesar Rp 500.000,00. Maka dari itu, Ia bekerja keras dan berusaha membagi waktu sebaik mungkin agar sekolah dan pekerjaannya berjalan dengan lancar. Setalah lulus SMA, Ia bercita-cita untuk meneruskan studi di MMTC. Pejuang SAS menyalurkan bantuan berupa uang tunai untuk keperluan Nita sehari-hari. Dari Nita kita belajar, bahwa hidup memang keras. Usia muda seharusnya digunakan untuk belajar menata hidup bukan hanya berfoya-foya menghabiskan uang orang tua.

SAS In Action #18 bersama Nita
SAS In Action #18 bersama Nita
ShareShare on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterPin on PinterestShare on LinkedInShare on TumblrEmail this to someone

Bestessay4u . Com in-depth review: top company to buy paper on any topic fast & at the right time

ShareShare on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterPin on PinterestShare on LinkedInShare on TumblrEmail this to someone

Are you alarmed on how to do difficult academic writing pieces? bestessay4u.com ensures all-round solutions that really help anybody win top class results.

Essay Writing Help

bestessay4u.com can be described as a business organisation that Continue reading Bestessay4u . Com in-depth review: top company to buy paper on any topic fast & at the right time

ShareShare on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterPin on PinterestShare on LinkedInShare on TumblrEmail this to someone