IMG_20170312_092544_HDR

SAS In Action #55 : Perjuangan Hidup Ibu Paijem dan Aris Nugroho

ShareShare on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterPin on PinterestShare on LinkedInShare on TumblrEmail this to someone

SAS In Action #55
(12/3/2017)
(Tilas, Sumbermulyo, Bambanglipuro, Bantul)

Alhamdulillahirobilalamin, berkat rahmat Allah SWT pada hari Minggu, 12 Maret 2017, temen temen relawan PMIA berkesempatan untuk bersilaturahmi dengan Ibu Paijem dan Aris.

Ibu Paijem (36 tahun) adalah ibu dari Aris Nugroho (18 tahun). Aris lahir pada tanggal 9 September 1998 di Bantul. Aris adalah seorang remaja penderita Hidrocepalus (pembesaran kepala) sejak kecil. Seharusnya seusia Aris sekarang, ia telah tumbuh berkembang menjadi remaja yang aktif dan ceria yang mungkin duduk di bangku SMA ataupun semester awal kuliah.

Menurut penuturan sang Ibu, ketika dulu melahirkan, kondisi Aris normal seperti bayi pada umumnya. Namun di usia 8 bulan, Aris mengalami demam tinggi kemudian di bawa ke salah satu rumah sakit swasta di Jogja. Tak lama setelah itu, Aris pun di suntik pada bagian kepalanya. Bukan kesembuhan yang ia dapatkan, kepala Aris pun semakin membesar. Ibu Paijem pun mencoba untuk menuntut pertanggung jawaban pihak rumah sakit, namun sepertinya mengalami berbagai kendala hingga akhirnya Ibu paijem pun mengikhlaskan.

Ibu Paijem merawat Aris bersama sang ibu tapi kini sudah meninggal. Sudah lama pula, sang suami meninggalkan mereka dan kabarnya sekarang sudah menikah lagi. Suatu hari kabar kondisi Aris dan Ibu diposting di media sosial. Ada orang yang menjadi penyalur bantuan namun uangnya tidak diberikan seluruhnya, malah di bawa kabur dan tanpa kabar. Itu belum seberapa, masih banyak cerita lainnya.

Kini, Ibu Paijem merawar Aris seorang diri. Setiap Sabtu, mereka pergi ke RS Panti Rapih untuk terapis. Jarak yang jauh , belum lagi ongkos jalan yang mahal tidak menyurutkan semangat mereka. Kini, lingkar kepala yang dulu 180 cm sekarang berangsur angsur mengecil hingga 80 cm.

Ibu Paijem tidak bekerja, dulu pernah membuka warung sembako di rumah namun sekarang sudah tutup. Untuk obat, terapis, ongkos jalan dan kebutuhan yang lainnya ibu Paijem dibantu oleh donatur baik itu tetangga, keluarga maupun bantuan dari berbagai pihak.

Tidak sampai disitu, Ibu paijem pun mengalami kondisi kepala yang tidak seperti kepala manusia pada umumnya. Ibu tidak mempunyai tempurung kepala, mata sebelah kirinya sedikit tertutup karena dulu pernah jatuh dan qodarullah kondisinya seperti sekarang.

Yang membuat kami salut akan perjuangan beliau adalah keistiqomahan ibu Paijem dalam beribadah baik itu solat wajib, solat tahajud setiap malam dan puasa Senin-Kamis. Ibu menuturkan, apapun yang dikatakan oleh masyarakat tentang dirinya, atau apapun tantangan/ujian dari Allah, Ibu siap menghadapinya. Ibu Paijem akan terus membersamai Aris sampai kapanpun. Rasa syukur beliau luar biasa!

PMIA menyalurkan donasi berupa uang tunai sebesar Rp 300.000 untuk membantu pengobatan Aris. Semoga menjadi amal jariyah bagi yang sudah berdonasi maupun pihak lain yang telah membantu.

Sungguh, perjuangan mereka sangat menginspirasi dan membuka mata kita semua. Semoga kita bisa semakin bersyukur dan banyak membantu orang lain. Mari doakan semoga Ibu Paijem dan Aris diberikan kekuatan, kesabaran, perlindungan dan kesehatan Aamiin Ya Robbal Alamin.

Ayo bergabung bersama kami!
Pejuang Muda Indonesia
Bergerak, Berbagi, Menginspirasi

Perjuangan Hidup Ibu Paijem dan Aris Nugroho

Perjuangan Hidup Ibu Paijem dan Aris Nugroho

Perjuangan Hidup Ibu Paijem dan Aris Nugroho

ShareShare on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterPin on PinterestShare on LinkedInShare on TumblrEmail this to someone

Leave a Reply