Tag Archives: pejuang muda indonesia

SAS In Action #49 : Setia Sampai Kapanpun!

ShareShare on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterPin on PinterestShare on LinkedInShare on TumblrEmail this to someone

SAS In Action #49
(Sidoharjo, Imogiri, Bantul)
(9 Oktober 2016)

SAS In Action kita kali ini kami mengunjungi seorang ibu yang bernama Siti Mahmudah (51 tahun). SUdah 16 tahun beliau hanya berbaring di tempat tidur. Beliau mengalami kelumpuhan. Menurut cerita sang suami (Ponidi, 53 tahun), kelumpuhan Bu Siti terjadi setelah melahirkan anak ketiganya yang kini berusia 16 tahun dan duduk di kelas 3 SMP Muhamadiyah Imogiri.

Setelah melahirkan, Bu SIti yang juga mempunyai turunan diabetes dari sang nenek tumbang dan menjalar ke gangguan lambung dan ginjal. Bu Siti sudah diobati dengan berbagai macam cara. Dirujuk ke dokter dan pengobatan alternative sudah dicoba namun hasilnya tetap sama.

Kini, Bu SIti hanya terbaring lemah di tempat tidur.Yang merawat beliau adalah sang suami, anak terakhir (Adi), anak kedua (buruh bangunan) dan sesekali anak pertama yang sudah menikah dan tinggal terpisah menjenguk beliau. Tetangga tetangga Bu Siti juga turut membantu merawat ketika Pak Ponidi pergi bekerja.

Pak Ponidi adalah buruh parkir di pasar Imogiri. Gajinya sehari Rp 35.000. Mau tidak mau harus cukup untuk kebutuhan sehari hari belum lagi ditambah obat, pampers dan kebutuhan Bu Siti yang lainnya. Tutur Pak Ponidi, kebutuhan Bu Siti adalah pampers yang setiap hari memakan biaya yang tidak sedikit. 1 pampers dengan kualitas murah harganya Rp 6.500. DIkalikan dengan dua atau tiga kali pemakaian dalam satu hari. Tentu gaji beliau sangat pas pasan belum lagi ditambah kebutuhan rumah tangga, kebutuhan sekolah anak, sumbangan desa dan lain sebagainya.

Setiap harinya, Pak Ponidi selalu setia mendampingi dan merawat sang istri. Kami bisa melihat ketulusan dan kesabaran beliau menghadapi cobaan ini. Banyak temannya yang mengatakan bahwa lebih baik sang istri di pulangkan dan dirawat oleh orangtua nya saja, namun pak Ponidi menolak. Beliau berpikir, saya harus menemani beliau dalam suka duka, tidak hanya menikmati ketika suka saja. Namun disegala kondisi, Pak Ponidi harus setia dan bertanggung jawab. Pak Ponidi mengatakan bahwa ini cobaan bagi keluarganya, mereka menjalani dengan ikhlas dan dengan penuh kesabaran. Masih ada harapan untuk sembuh. Yang terbaik harus selalu diusahakan.
Tiap hari Bu SIti harus di cek gulanya sebelum makan. Rekor kadar gula paling tinggi adalah 900, kemudian Pak Ponidi sendirilah yang harus menyuntikan cairan penurun gula ke dalam tubuh Bu SIti. Bayangkan, tubuh kecil Bu Sitiyang sudah lemah, harus menerima suntikan setiap hari. Tapi suntikan itulah salah satu cara membuat Bu SIti untuk tetap bertahan.

Adi , anak terakhir yang dilahirkan Bu Siti kini kelas 3 SMP. Setelah bertemu dengannya, kami melihat sosok Adi adalah anak yang rajin, berbakti dan pintar. Adi adalah anak yang rajin merawat sang Ibu yang berjuang melahirkannya. Pak Ponidi dan tetangga pun berpendapat yang sama. Adi sangat terampil dan sabar dalam merawat ibunya. Karena bagaimanapun sang ibu seperti sekarang ini juga setelah melahirkan Adi. Setelah ditanya lebih dalam tentang cita cita ia pun berkeinginan menjadi seorang tentara. Maka dari itu, sudah dua bulan ini ia bergabung di pelatihan tinju yang bisa mengasah fisik dan membimbingnya mengjemput impian.

Adi pun harus menerima resiko bahwa suatu saat ia juga bisa terkena diabetes. Maka dari itu, ditambah dukungan dari sang ayah membuat Adi untuk menjalankan gaya hidup sehat dengan berbagai cara termasuk olah raga tinju. Tahun depan, ia akan lulus SMP dan ingin melanjutkan ke SMAN 1 Bantul. Namun, kendala biaya membuat impian itu terlihat begitu berat. Kami pun mencoba menyemangati Adi untuk terus belajar dan jangan pernah takut bermimpi. InsyaAllah pasti ada jalan.

Pejuang Muda menyalurkan bantuan berupa uang tunai senilah Rp 500.000. Semoga bermanfaat bagi Pak Ponidi dan keluarga.

Hari ini kita belajar bahwa hidup yang kita kadang kutuk, keluhi ini adalah hidup yang orang lain inginkan. Tubuh yang mungkin kadang kita merasa kurang dengannya adalah tubuh sehat yang orang orang diluar sana inginkan. Pak Ponidi dan Bu SIti memberi kita pelajaan akan arti kesetiaan suami istri dan arti berbakti kepada orang tua. Mari kita doakan semoga mereka diberi kekuatan, perlindungan untuk berjuang menghadapi segala tantangan hidup. Semoga Bu Siti segera pulih dari sakitnya. Semoga segala perjuangan mereka bernilai pahala berlipat lipat dari Allah. Aamiin Aamiin Ya Robbal Alamin.

whatsapp-image-2016-10-12-at-08-22-00

whatsapp-image-2016-10-12-at-08-21-43

whatsapp-image-2016-10-12-at-08-21-432

whatsapp-image-2016-10-12-at-08-21-433

whatsapp-image-2016-10-12-at-08-21-434

ShareShare on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterPin on PinterestShare on LinkedInShare on TumblrEmail this to someone

MKB #5 : English Is Fun!

ShareShare on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterPin on PinterestShare on LinkedInShare on TumblrEmail this to someone

(Sumberarum, Kuncen, Prambanan)
(02 Oktober 2016)

Alhamdulillah, program MKB (Masa Kecilku Bahagia) yang ke 5 menghadirkan Martin Iryayo, mahasiswa S2 UNY asal Rwanda, Afrika

Anak anak sangat antusias mendengarkan cerita Kak Martin. Kak Martin juga mengajari anak anak bahasa inggris dan permainan seru lainnya. Terimakasih Kak Martin. Nice to meet you :)

Ayo ikut keseruan kami!
Masa Kecilku Bahagia!
www.pejuangmudaindonesia.com

14448964_10205849938207940_7086461479339080186_n

14448785_10205849938527948_4868049813646765898_n

14495336_10205849949128213_1015175655129124611_n

14492542_10205849951288267_4538167174848454208_n

14519830_10205849942128038_4792836242168337796_n

14522816_10205849944248091_5370021058082226123_n

14502931_10205849942168039_6703194698920246582_n

ShareShare on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterPin on PinterestShare on LinkedInShare on TumblrEmail this to someone

SAS In Action #43 : Kesetiaan Suamiku Sungguh Menguatkan!

ShareShare on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterPin on PinterestShare on LinkedInShare on TumblrEmail this to someone

SAS In Action #43
(31/07/2016)
(Dladan, RT 004, Tamanan, Banguntapan, Bantul, Yogyakarta)

Sahabat PMIA kali ini adalah Mbah Tukijah (64 tahun). Beliau mengidap penyakit tumor di bagian perut (tumor omaentum). Penyakit ini beliau derita sejak 5 bulan terakhir. Cerita awalnya dulu ketika tahun 2010, Mbah Tukijah sebenarnya berpostur gemuk kemudian berangsur angsur menjadi kurus dan mengalami sakit perut. Dugaan pertama karena proses KB yang ia jalani, atau diare, disentri atau penyakit biasa namun setelah memasuki tahun 2016, setelah di rujuk dari puskesmas ke RSUD Wirosaban, beliau mendapat vonis penyakit tersebut.

Alhamdulillah, Mbah Tukijah terdaftar di BPJS sehingga sangat meringankan beban finansial yang harus ditanggung. Hingga pada akhirnya, pada tanggal 22 Juni 2016 dilakukan operasi pertama di RSUD Wirosaban untuk membuang tumor yang ada di perut Mbah. Pasca operasi beliau dirawat sampai 9 hari. Tak berhenti sampai disitu, Mbah Tukijah melakukan operasi keduanya pada 12 Juli 2016 untuk menguras saluran pasca operasi.

Kini, Mbah Tukijah sedang dalam masa pemulihan dan dirujuk untuk rutin kemoteraphy satu minggu satu sekali selama 6 bulan di RS Panti Rapih Jogja dimana ketersediaan alat dan perlengkapan kemo-nya lebih lengkap. Biaya kemo sangat mahal, tutur anak pertamanya (Bu Agus Tumini) sehingga BPJS hanya mengcover biaya sesuai dengan plafon penyakit/biaya kemo-nya. Selebihnya, anak-anak Mbah Tukijah yang saling iuran membayar biaya kemo tersebut.

Di sisi lain, suami Mbah Tukijah (Mbah Mujianto, 71 tahun) sudah tidak bekerja. Beliau hanya beraktivitas di kebun miliknya sendiri. Mbah Muji sudah kurang lebih menderita gangguan pendengaran (tuli) sejak 40 tahun yang lalu. Hal ini beliau alami ketika rentetan peristiwa menimpa beliau ketika bekerja. Dulu, Mbah Muji pernah jatuh dari pohon karena profesinya sebagai tukang nderes (memanjat pohon kelapa untuk mengambil air nira yang digunakan untuk proses pembuatan gula jawa) belum lagi peristiwa Mbah Muji yang juga jatuh di dekat sungai membuat pendengaran beliau terganggu ditambah tulang rusuk beliau yang patah. Sekarang, Mbah Muji hanya berkegiatan ala kadarnya, berkebun. Beliau mengalami kendala untuk komunikasi.

Alhamdulillah, Mbah Tukijah dan Mbah Muji dikaruniai 4 anak. Ada yang tinggal di Indramayu, Bandung, Pleret dan Imogiri Bantul sedangkan Mbah Tukijah dan Mbah Muji tinggal terpisah dengan mereka. Semua anak-anaknya sudah berkeluarga sehingga anak bungsu dan sulunglah yang merawat beliau secara bergantian karena jarak rumah yang lumayan dekat. Dengan berbagai daya, upaya anak anak Mbah Tukijah dan Mbah Muji bergotong royong merawat orangtua mereka khususnya sang Ibu (Mbah Tukijah) yang sedang mendapat ujian dari Allah berupa penyakit tumor.

Hal romantis yang terkait antara Mbah Tukijah dan Mbah Muji adalah ketika malam hari, Mbah Tukijah tidur di atas dipan sedangkan Mbah Muji tidur di samping dengan tikar dan bantal seadanya dan ketika Mbah Tukijah ingin bangun untuk ke kamar mandi atau karena sudah pagi Mbah Tukijah mengambil tongkat yang sudah disiapkan untuk menyentuh tangan atau tubuh Mbah Muji yang memang mengalami gangguan pendengaran (tuli). Karena sentuhan tongkat itu pun, beliau bangun dan segera membantu Mbah Tukijah yang masih mengalami kesusahan bangun dari tempat tidur. Setiap hari seperti ini, romantis nya ngalahin keromantisan anak anak muda jaman sekarang. Lihatlah, betapa kesetiaan itu sangat mahal harganya. Jangan sampai lupa untuk memberi pupuk dan merawatnya sampai ajal menjemput.#tsaahh

Dengan segala kondisi ini, keluarga mereka masih terus berusaha sekuat tenaga untuk menyembuhkan Mbah Tukijah. Apa pun di ikhtiarkan, mereka pun telah mengajarkan kepada kami arti kesetiaan antar pasangan, rasa syukur atas apapun yang kita dapatkan dan bakti anak kepada orangtua.

Pejuang Muda menyalurkan bantuan uang senilai Rp 300.000 untuk kebutuhan sehari-hari Mbah Tukijah dan Mbah Muji. Terimasih kepada pejuang, donatur dan pihak pihak yang telah membantu. Mari doakan semoga mereka sekeluarga diberikan kesehatan, kekuatan dalam menjalani setiap proses hidup ke depan. Aamiin Ya Robbal Alamin.

Jangan hanya membaca artikel ini, segera turun tangan bersama kami !
Bisa berdonasi atau menjadi bagian dari Pejuang Muda atau kalau masih sulit, share artikel ini.
f : Pejuang Muda Indonesia
t : @pejuangmudaind
ig : @pejuangmudaindonesia
www.pejuangmudaindonesia.com
Donasi : no.rek 709 011 4381 (Bank Syariah Mandiri an Ratih Kartika. Kode Bank 451)
Konfirmasi : 089678829945

Pejuang Muda Indonesia
Bergerak, Berbagi, Menginspirasi

43

IMG_20160731_092644

ShareShare on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterPin on PinterestShare on LinkedInShare on TumblrEmail this to someone

SAS In Action #42 : Hafara Yang Luar Biasa!

ShareShare on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterPin on PinterestShare on LinkedInShare on TumblrEmail this to someone

SAS In Action #42
(24/07/2016)
(Brajan RT 08, Tamantirto, Kasihan, Bantul, Yogyakarta)

Alhamdulillah ala kuli hal, di action kali ini kami berkesempatan untuk silaturahmi ke salah satu panti sosial yang ada di Jogja, yaitu Panti Hafara. Panti ini luar biasa kerennya karena panti ini mungkin berbeda dengan panti-panti yang lainnya. Mengapa berbeda?

Dari website panti hafara sudah jelas tertera informasi lengkapnya (www.pantihafara.com) dan yang membedakan dengan panti lainnya yaitu di program Panti Sosial Pondok Dhuafa (PSPD) : Pelayanan dan pembinaan dalam Panti Sosial Pondok Dhuafa (PSPD) diperuntukan kepada rekan-rekan pasca gepeng (gelandangan-pengemis) yang tidak memiliki tempat mukim serta kecakapan tetapi berkeinginan untuk meninggalkan dunia jalanan, Panti Hafara siap menerima dan memfasilitasi dengan pelatihan-pelatihan keterampilan. Sistem pembinaan dan pemberdayaan yang diterapkan dalam Panti Sosial Pondok Dhuafa (PSPD) Hafara adalah sistem pemondokan seperti pada pondok-pesantren dengan syarat “kontrak-sosial” ketika rekan-rekan pasca gepeng (gelandangan-pengemis) telah masuk kedalam panti, mereka tidak boleh lagi turun kejalan dan harus ikut berpartisipasi dalam usaha-usaha ekonomi produktif yang dikembangkan Panti Hafara. 
Selain itu ada program Panti Rehabilitasi Gangguan Kejiwaan/Psikotik : seiring berjalannya waktu Panti Hafara kini telah dapat melakukan pelayanan pembinaan dan rehabilitasi kepada penderita gangguan kejiwaan/mental (psikotik) secara mandiri dalam Panti Rehabilitasi Gangguan Kejiwaan/Psikotik.

Jadi, salah satu fokus kegiatan panti Hafara adalah melakukan pembinaan terhadap orang orang yang jiwanya terganggu. Maka tidak kaget ketika kami memasuki komplek panti hafara, ada kegiatan menarik yang terlihat di pendopo utama panti. Ada banyak bapak, ibu yang menderita gangguan jiwa sedang berkumpul untuk mengikuti program-program harian di Panti. Ada menyanyi, melafalkan surat-surat pendek Al Qur’an, menari dan lain sebagainya. Pemandangan tersebut membuat kami terpana. Membuat kami takjub dengan keadaan yang jarang sekali kami temui selama ini.

Ketika kami semakin mendekat dan berinteraksi dengan mereka, hati semakin iba melihat kondisi mereka. Ada yang memberikan senyum meringis kepada kami, ada pula yang memandang dengan tatapan kosong, ada yang melamun bahkan ada yang tertidur. Bisa dibayangkan, betapa tulus dan kuatnya para relawan pengajar para pasien di Hafara. Membimbing orang normal saja kadang sulit, apalagi kalau harus mengajar orang dengan gangguan jiwa. Sangat membutuhkan proses yang panjang lengkap dengan ketulusan dan kesabaran. Kami pun kagum dengan mereka.

Di panti hafara, kami benar-benar menyaksikan dengan mata kepala kami sendiri, bahwa ternyata ada panti yang luar biasa merawat mereka yang notabene sangat jauh berbeda dengan orang normal lainnya. Mereka adalah orang orang yang jiwanya terganggu yang kemudian dirawat oleh panti ini.

Setelah mengobrol dengan pengurus, kami bertemu dengan seorang anak yang idiot, dan penjelasan dari pengurus anak tersebut berasal dari pelosok Bantul, berasal dari keluarga miskin dan terkadang memakan benda benda yang tidak lazim seperti sandal. Astagfirullah…

Ada pula, gadis remaja yang ternyata dulu adalah anak berprestasi di salah satu SMA terbaik di kota Jogja, namun akhirnya jiwanya stress karena suatu hal dan di rawat di panti Hafara. Ia hanya duduk diam tertunduk. Tidak mau berbicara kepada siapapun. Dari penuturan pengurus, dia hanya mau berkomunikasi dengan teman teman yang sudah ia kenal, seperti teman SMP/SMA.

Itu baru cerita dari dua orang pasien di Panti Hafara. Belum lagi cerita dari pasien lainnya. MasyaAllah T.T

Kami pun berkesempatan berkeliling komplek panti, ada banyak pondok-pondok yang didirikan dan digunakan untuk ruang tidur, dapur, kantor, mushola, kamar mandi, dan lain sebagainya.

Kami juga berkesempatan bertemu dengan ketua yayasan (Pak Yanto), beliau menuturkan ada sekitar 100 orang yang dirawat di Panti Hafara ini. 70 orang yang menderita gangguan jiwa, yang lainnya anak dan lansia terlantar. Anak anak tersebut juga disekolahkan oleh pihak panti. Selain itu, panti hafara juga mempunyai program pengurusan jenazah gelandang, pengemis maupun orang dengan gangguan jiwa yang terlantar di jalan. Bahkan, mereka pernah mengurusi jenazah yang mohon maaf (kondisinya tidak lengkap, tidak ada kepala). Ya Allah, mendengar penjelasan Pak Yanto membuat kami sedih, iba sekaligus bersyukur dengan keadaan yang kami miliki dan semakin bersemangat untuk terus berbuat kebaikan. Hafara mengajarkan kepada kami bahwa gelandangan, pengemis dan orang gila juga sama seperti kita yaitu manusia. Hanya saja akal dan jiwanya sudah terganggu. Kadang kita takut dan acuh dengan mereka. Namun sejatinya, mereka butuh pembinaan dan uluran tangan dari kita yang memiliki fisik dan normal.

Alhamdulillah, Pejuang menyalurkan bantuan berupa dua paket sembako yang berisi bahan bahan pangan pokok, kebutuhan makan, mandi yang bisa digunakan sehari-hari oleh para pasien. Mari doakan semoga seluruh pasien bisa sembuh, anak anak bisa bersekolah sampai menjadi orang sukses dan semoga panti ini bisa terus mendapat keberkahan dari Allah. Semoga para pengurus, relawan, donatur, masyarakat dan semua pihak yang membantu mendapatkan pahala dari Allah. Aamiin Ya Robbal Alamin.

Ini aksi kami, mana aksi kamu?
Bergabunglah dengan keluarga besar Pejuang Muda Indonesia
f : Pejuang Muda Indonesia
t : @pejuangmudaind
ig : @pejuangmudaindonesia
w: www.pejuangmudaindonesia.com
Salurkan donasimu melalui rekening PMIA dengan nomor rek. 709 011 4381 (Bank Syariah Mandiri an Ratih Kartika). Konfirmasi : 089678829945 (SMS/WA)

Jangan lupa share dan comment ya :)

Pejuang Muda Indonesia
Bergerak, Berbagi, Menginspirasi!

SI_20160727_080704

IMG-20160724-WA0020

IMG-20160724-WA0022

IMG-20160724-WA0025

IMG-20160724-WA0027

IMG-20160724-WA0029

IMG-20160724-WA0032

IMG-20160724-WA0036

IMG-20160724-WA0057

ShareShare on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterPin on PinterestShare on LinkedInShare on TumblrEmail this to someone